Rabu, 16 Mei 2012

JLAMPRANG Penerimaan Siswa Baru (PSB) SDN Jlamprang tahun ajaran 2012/ 2013 akan dilaksanakan pada tanggal 2-7 Juli 2012. Syarat pendaftaran adalah: 1. Melampirkan FC Akta Lahir 2. Melampirkan FC Kartu Keluarga 3. Usia minimal 6 tahun 4. memiliki ijazah PAUD/ TK 5. Mengikuti seleksi akademik (Membaca dan Berhitung) Untuk keterangan lebih jelas, dapat langsung datang ke SDN Jlamprang. Demikian Pengumuman disampaikan. Atas perhatian disampaikan terima kasih

Rabu, 16 Maret 2011

MATERI GLOBALISASI (SIKLUS III)

JLAMPRANG
1) kebudayaan di lingkungan sekitar harus dilestarikan dengan sebaik- baiknya karena apabila kebudayaan warisan nenek moyang tidak kita jaga dan lestarikan dengan baik di era globalisasi seperti saat ini, sangat mudah untuk diakui oleh negara lain. Contoh: Batik, Keris dll
2) Cara menjaga dan melestarikan kebudayaan Indonesia antara lain dengan menampilkan budaya kita pada festival budaya atau pagelaran kesenian baik di sekolah maupun di lingkungan masayarakat.
3) Cara menyikapi pengaruh globalisasi di sekolah adalah dengan melestarikan permainan tradisional maupun lagu daerah. Disamping itu kita sebagai pelajar harus aktif mempelajari kebudayaan nasional yang belum kita ketahui. warga asing saja mau mempelajari kebudayaan Indonesia, seharusnya kita malu apabila tidak bisa.
3) Cara melestarikan kebudayaan di era globalisasi di lingkungan masyarakat adalah dengan menaati norma peraturan lingkungan. Apabila kita meniru gaya dari negara lain yang tidak sesuai dengan norma agama, kesopanan dan susila maka kita akan dianggap sampah masyarakat, kemudian kita akan dikucilkan . Contoh: apabila kita meniru menyemir rambut, kita akan dianggap sebagai anak nakal dan akhirnya tidak ada yang mau lagi berteman dengan kita.
4) Contoh menjaga sikap di era globalisasi di lingkungan keluarga adalah dengan menonton tayangan televisi yang baik, mengerti waktu saat waktu beribadah dan tidak menghabiskan uang jajan untuk bermain play station.
5) Kita harus bangga dengan budaya kita karena kebudayaan nasional Indonesia sangat dikagumi negara lain. Contohnya Presiden Amerika serikat Barrack Obama saja sangat menyukai bakso dan martabak khas Indonesia.
6) Mulai saat ini kita harus mampu menjaga budaya kita, jangan sampai budaya kita hilang akibat kalah dengan budaya negara lain yang masuk ke Indonesia.

SOAL DISKUSI KELOMPOK

1) Apa yang akan terjadi jika kita tidak mau menjaga dan melestarikan kebudayaan Nasional?
2) Bagaimana cara menjaga dan melestarikan kebudayaan di era globalisasi saat ini?
3) Sebutkan 5 teknologi yang dapat menjadi media untuk memperkenalkan kebudayaan kita kepada negara lain!
4) Sebutkan 3 perbuatan yang berasal dari negara lain yang tidak sesuai dengan norma agama!
5) bagaimana cara menghadapi globalisasi?

Rabu, 09 Maret 2011

MATERI GLOBALISASI (SIKLUS II)

JLAMPRANG
1)Bagaimana wujud nyata globalisasi di lingkungan kita?
Kita dapat menyaksikan siaran langsung sepak bola luar negeri hanya dengan duduk manis di depan layar televisi, tanpa harus datang langsung kesana. Kita juga tahu tentang negara lain, peristiwa yang sedang terjadi hanya dari rumah saja.
2) Apa saja produk luar negeri yang ada di Indonesia?
Produk luar negeri banyak dijumpai di Indonesia, contohnya : Sepeda motor yang setiap hari dinaiki kita, Telepon, Komputer, Pakaian, Musik luar negeri, Film dan makanan dari luar negeri.
3) Apa pengaruh produk luar negeri di Indonesia?
Pengaruhnya, banyak orang Indonesia yang meninggalkan produk dalam negeri dan beralih ke produk luar negeri. Ini akan menyebabkan kebudayaan Indonesia hilang dan sudah tidak diminati masyarakatnya sendiri.
4) Bagaimana cara mencegahnya?
Harus mencintai produk dalam negeri, tidak langsung menyukai atau memilih budaya dari luar negeri, harus diseleksi dengan norma agama, hukum dan kesopanan
5) Apakah ada kebudayaan Indonesia yang dikenal negara lain?
Banyak sekali, contohnya adalah wayang, batik, keris, tari tradisional, makanan dan tempat wisata.
6) Apa saja yang dapat membanggakan Indonesia dimata dunia?
Indonesia memiliki Bali sebagai surga wisata dunia, Indonesia memiliki gamelan dan wayang yang pernah dipentaskan di Yunani oleh Ki Matep Sudharsono, Indonesia memiliki Tari Kecak yang terkenal, Candi Borobudur dan taman nasional pulau Komodo
7) Apa yang menyebabkan budaya kita diambil negara lain?
Karena kita tidak menjaganya.. Karena masyarakat lebih suka dengan produk budaya luar negeri, sehinggga dengan mudah budaya kita diakui negara lain.
8) Bagaimana Cara menjaganya?
Belajar dari kecil tentang budaya nasional, melestarikan permainan tradisional, lebih suka produk makanan tradisional dll
9) Bagaimana cara mengenalkan kebudayaan kita ke dunia luar?
Dengan melakukan pementasan di tingkat internasional, tukar budaya dan mempersilahkan wisatawan melihat budaya kita

SOAL DISKUSI KELOMPOK
1.Mengapa kita harus bangga terhadap kebudayaan Indonesia?
2.Bagaimana cara memperkenalkan kebudayaan Indonesia di dunia?
3.Sebagai pelajar, apa yang harus kita lakukan untuk melestarikan kebudayaan di era globalisasi ini?
4.Sebutkan 5 budaya Indonesia yang dipentaskan di dunia Internasional?
5.Sebutkan 5 kebudayaan yang diakui oleh negara lain!

Rabu, 02 Maret 2011

MATERI GLOBALISASI (SKLUS I)

Mari mengenal lebih jauh tentang globalisasi
1. Apakah globalisasi itu?
Globalisasi adalah menyatunya masyarakat dunia menjadi satu kesatuan baru tanpa terhalang oleh batasan tempat, ruang dan waktu (menyeluruh)
2. Apa bukti adanya globalisasi?
Kita dapat menyaksikan berita maupun pertandingan sepak bola dari luar negeri saat itu juga tanpa harus datang/ melihat langsung kesana.
3. Apa saja yang menyebabkan globalisasi?
Adanya media informasi (televisi/ internet dll)
Adanya media komunikasi (HP dll)
Adanya media transportasi (pesawat terbang dll)
4. Apa saja contoh media Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di era globalisasi?
HP,Komputer (laptop), Televisi, surat kabar dll
5. Apa saja dampak negatif globalisasi?
sikap individualis,konsumeristis, meniru gaya hidup,hilangnya kebudayaan lokal
6. Apa saja dampak positif globalisasi?
informasi cepat tersaji,informasi pesat,pengetahuan meningkat
7. Mengapa kita tidak boleh meniru budaya negara asing?
karena tidak sesuai dengan norma agama, kesopanan dll
sebagai pelajar yang baik, kita harus menanyakan kepada guru jika ada gaya hidup yang tidak baik

Senin, 22 November 2010

Elaborasi Eksplorasi Kolaborasi kenapa baru sekarang????

JLAMPRANG
belajar tidak menjadi pintar.....tapi hakikat belajar adalah mengerti.
ketika hasil belajar telah ditentukan standar pencapaian, ruh belajar telah mengalami kekaburan makna, atau bahkan telah sengaja dilupakan. Pelaksanaan pembelajaran bermakna yang telah dicetuskan oleh UNESCO ternyata tak mampu berkembang ketika terdapat sistem penilaian terpusat pada kesamaan soal evaluasi. Kendala sederhana ketika guru hendak mengembangkan pembelajaran bermakna berbasis Elaborasi ( perluasan kajian materi), Eksplorasi (penjelajahan pengetahuan) dan Kolaborasi(perpaduan) terhadang dengan soal evaluasi yang ditetapkan pada Ulangan akhir semester maupun ulangan Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional.Kecemasan yang berujung pada sikap apatis melandasi pola berfikir, mengapa harus melaksanakan pembelajaran bermakna berbasis EEK, jika pada akhirnya soal evaluasi hanya mengacu pada pencapaian indikator saja? mengapa harus menerapkan pembeljaran elaborasi yang berarti siswa harus memperluas kajian materi sedangkan evaluasi pembelajaran yang akan dikerjakan siswa pada UAS maupun UASBN masih dipersempit dengan soal tertulis yang pastinya perluasan pengetahuan tersebut tidak akan muncul pada soal?
pembelajaran Eksplorasi masihkan menjadi pionir mesin penjelajah ketika setiap akhir semester siswa hanya terkondisikan untuk menyelesaikan soal evaluasi yang hanya bertumpu pada selembar kertas dan jawaban tunggal pasti?
Kolaborasi juga tentunya akan menjadi sebuah paradoks ketika evaluasi hanya berorientasi pada rangking individualistik.....belum ada formula tepat untuk mengukur sejauh mana siswa mampu mengembangkan diri....masih sempit indikasi yang mampu menggambarkan hasil proses eksplorasi....dan yang masih sangat ironis ketika pembelajaran kolaborasi harus diukur dengan pencapaian tingkatan rangking........

Selasa, 02 November 2010

dan ketika perjuangan terbayar dengan prestasi

JLAMPRANG
hasil akhir bukan segalanya........tapi adalah proses......dari awal sampai akhir
ketika semangat dan optimisme menjadi modal awal.......
ketika persiapan menjadi penting.......
ketika mental juara mulai mengalir di langkah pertama...
kami yakinkan kami pasti juara.......
dan ketika semua cita terlaksana.......
ungkapan syukur tak terkita atas nikmat sang pencipta
rasa haru dan bangga telah menorehkan sejarah didada siswa
bahwa mereka telah berhasil menjadi yang tergiat di jambore ranting
adalah kado terindah seumur hidup kami.......
karena kami sangat menyadari...bahwa jamran hanya terjadi sekali seumur hidup anak didik kami.......
mental juara yang selalu kami tanamkan adalah ' kalau tidak saat ini juara??? kapan lagi akan ada kesempatan kedua??? hanya mental pemenang yang berhasil menang"
terima kasih atas perjuangan kalian....... semoga ini menjadi awal nyata untuk meraih prestasi selanjutnya..........
"penggalang SD Jlamprang....bersatu hatipun senang..kuyakin jamran ini pasti menang.
kobarkan semangatmu....tunjukkan semua aksimu...kuyakin jamran ini pasti menang..."
jamran seumur hidupmu sekali...terima kasih telah menjadikan kenangan yang sangat berarti bagi bumi pertiwi.....
selamat atas diraihnya regu tergiat I purti di jamran 2010.

Sabtu, 23 Oktober 2010

AFIRMASI SEJAK DINI

JLAMPRANG
mkalah adalah hal yang lumrah dalam setiap perlonbaan, karena sejatinya hukum dari sebuah perlobaan adalah ada yang menang dan ada yang kalah. Apabila tidak menang, ya bisa dipastikan kalah.......mengapa kita bisa kalah???? sebuah refleksi sederhana.........
Mindset yang berkembang sampai saat ini adalah ketika kita berada pada posisi pihak yang mengalami kekalahan, selalu sibuk membela diri.......terlontar kalimat pembelaan perrmanen " Sudahlah......ini sebuah permainan....wajar jika kita kalah.....kalau semua ingin menang...siapa yang mau kalah.....pantas saja kalau kita kalah, lawan kita bermain lebih baik...pasti ada main dengan dewan juri" .Ternyata lebih mudah bagi kita untuk membela dan menghibur diri dari sebuah kekalahan.....daripada mencermati kekalahan....
bagaimana akibat jika dalam setiap lomba kita kalah dan selalu mengucapkan pembelaan???
cara menghibur diri yang biasa dilakukan ternyata berdampak buruk bagi generasi bangsa....bayangkan jika setiap kali kalah, siswa yang bertanding selalu memberikan statement yang sama....terus menerus...berulang ulang....setiap tahun kalah....kalah lagi.....selalu kalah....kalah lagi......selalu menghibur diri........apa yang akan terjadi???
bagaimana bangsa ini mau maju jika mulai dari kecil, tanpa disadari kita mengajarkan anak didik kita dengan argumen pembelaan dari setiap kegagalan.....hasilnya adalah guru telah mencetak ribuah bahkan jutaan "Generasiahli Kalah Sejati".
tidak ada yang ingin kalah......kalau boleh jujur.....ketika kalah, dalam diri kita merasa sedih dan kecewa.....karena sifat dasar manusia adalah ingin menjadi pemenang dalam setiap hal...
coba sedikit saja kita belajar mengambil hikmah dari sebuah kekalahan.......
dari sebuah kekalahan saja....satu saja....
langkah sederhana, tulis kalimat " mengapa kami kalah?" lanjutkan dengan bertanya " mengapa mereka bisa menang? Dari dua kalimat tanya sederhana, sudah tersusun rangkaian solusi membuang kekalahan......mengapa kita kalah??? kemungkinan jawaban yang mendekati adalah karena kurang persiapan....karena tidak maksimal dalam berlatih....
mengapa mereka menang? karena mereka lebih siap....karena mereka lebih matang dalam segala hal.
belajar dari kekalahan, adalah langkah awal menuju kemenangan.....dari dua jawaban sederhana, lalu lakukan dua langkah sederhana :
pertama, kata kunci dari kedua jawaban adalah "persiapan"........coba lebih maksimal dalam persiapan, lebih sering latihan dan lebih matang dalam perencanaan....resapi kalimat " TOTALITAS ATAU TIDAK SAMA SEKALI"
kedua, tumbuhkan mental juara pada diri siswa kita "AKU HARUS JUARA KARENA AKU PANTAS MENADAPAT JUARA DARI JERIH PAYAH BERJUANG SELAMA INI"
jika kita tidak ingin melihat bangsa Indonesia karam ditengah persaingan global.......
jika kita ingin menjadi guru yang memberi persembahan terbaik dari apa yang kita mampu...
jika kita ingin menjadi guru yang lebih dibanding guru lain.........
jika kita ingin menjadi mesin pencetak pemenang sejati.............
lakukan AFIRMASI berulang ulang........"TOTALITAS ATAU TIDAK SAMA SEKALI"....
mulai dari diri sendiri....
mulai dari hal yang terkecil.....
mulai dari sekarang!!!!!!!!!!!!!!!!!!



falidan Ahmad

Selasa, 31 Agustus 2010

SINOPSIS

JLAMPRANG, 23 Agustus 2010

PENGERTIAN SINOPSIS
Sinopsis adalah ikhtisar karangan ilmiah yang biasanya diterbitkan bersama-sama dengan karangan asli yang menjadi dasar sinopsis itu, atau ringkasan atau abstraksi (KBBI, 1988: 845). Sinopsis mengandung tiga pengertian yaitu; ikhtisar karangan, ringkasan, atau abstraksi, Keraf (1977: 84) menyatakan bahwa ringkasan sumarry précis adalah suatu cara yang efektif untuk menyajikan suatu karangan yang panjang dalam bentuk pendek. Kata précis berarti memotong atau meringkas. Dengan demikian meringkas ibarat memangkas sebatang pohon yang akhirnya tinggal batang dan cabang-cabang yang terpenting.
Menurut Keraf, keindahan gaya bahasa, ilustrasi serta penjelasan-penjelasan yang terperinci harus dihilangkan, sari karangannya dibiarkan saja tanpa hiasan dan yang tinggal hanyalah pokok-pokoknya saja. Namun demikian meskipun bentuknya ringkas, pikiran pengarang dan pendekatannya yang asli masih tetap dipertahankan dan harus ada.
Penulisan ringkasan harus berbicara sesuai dengan tulisan pengarang. Oleh karena itu dalam ringkasan, kalimat “Dalam alinea ini penulis mengatakan … “ atau “Penulis berpendapat … “ harus dihindari. Pernyataan demikian adalah suara penulis yang membuat ringkasan. Penulis yang membuat ringkasan seyogyanya langsung menyusun ringkasan tersebut, yang dimulai dengan meringkaskan kalimat-kalimat, alinea-alinea, bab-bab atau bagian-bagian yang lain dan seterusnya. Tidak berbeda jauh pula dengan pengertian ikhtisar yang berarti pula sebagai ringkasan. Hanya penggunaanya pada umumnya diarahkan pada buku-buku karya ilmiah.
Berbeda dengan abstraksi yang biasanya kita temukan dalam penyusunan skripsi dan tesis. Abstraksi dalam pengertian ini pun berarti ringkasan, perbedaannya sangat tipis yaitu hanya pada sisi tujuan penggunaannya. Ringkasan biasa dilakukakan terhadap objek karya sastra, maupun nonsastra, atau dalam karya ilmiah maupun nonilmiah. Sinopsis seringkali dipergunakan dalam karya yang bersifat sastra. Kalau pun ada sinopsis yang dikenakan pada karya nonsastra bahkan pada karya ilmiah, itu merupakan model dan bentuk pengembangan. Berdasarkan hal tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa sinopsis adalah ringkasan yang mengarah pada karya-karya baik fiksi maupun non fiksi, sedangkan sasaran ringkasannya adalah karya-karya ilmiah lebih kita gunakan istilah abstraksi atau ringkasan itu sendiri.
Sinopsis bukanlah resensi, sebab resensi tidak hanya meringkas tetapi juga menyimpulkan baik buruknya bulku sesudah dibaca, bahkan dalam resensi penulis dituntut untuk memberi ulasan sesudah melakukan telaah. Umumnya penulis resensi menyeleksi buku-buku secara khusus, yaitu hanya buku-buku yang baru terbit saja dan menarik untuk dikaji atau diresensi. sinopsis adalah ringkasan yang berbicara susasana pengarang asli (pengarang buku yang diringkas) dengan tetap mempertahankan bentuknya sebagai sebuah karangan.
PERSIAPAN MENYUSUN SINOPSIS
Sebelum kita mulai menyusun sinopsis, terlebih dahulu barlatihlah membuat ringkasan yang diambil dari sebuah karya atau artikel. Hal ini sangat berguna untuk mengembangkan ekspresi dan latihan menghemat kata. Latihan ini tidak cukup dilakukan secara intensif akan mengembangkan daya konsentrasi, serta mempertajam dalam menangkap pemahaman isi bacaan secara tepat, cermat, dan efektif.
Latihan menyusun sinopsis harus diawali dari membaca, maka berlatihlah secara terus menerus akan mengembangkan kemampuan membaca cepat, tepat dan cermat. Membaca dengan cara demikian amat diperlukan untuk membantu mempertajam gaya bahasa, serta menghindari uraian-uraian yang panjag lebar. Dengan demikian penulis sinopsis harus terlebih dahulu membekali diri dengan kemampuan membaca sebelum melakukan pekerjaan menyusun sipnosis. Dalam kegiatan membaca, objek atau materi yang akan di susun menjadi sipnosis tak cukup dibaca sekali. Materi tersebut perlu dibaca berulang kali, karena seluruh isi materi harus benar-benar dipahami dan dihayati.
LANGKAH-LANGKAH MENYUSUN SINOPSIS
1.Bacalah naskah asli berulang kali sampai benar-benar diketahui maksud dan pandangan pengarang.
2.Pada saat membaca perlu digaris bawahi atau dicatat ide sentralnya (pokok pikiran, kalimat pokok/kalimat inti).
3.Kesampingkan dulu teks asli sesudah dicatat ide sentral atau hal-hal pokok yang telah diketahui, kemudian kembangkan catatan-catatan tersebut dengan bahasa sendiri.
4.Pergunakanlah kalimat-kalimat tunggal, bila memungkinkan hindari pemakaian kalimat majemuk atau mengulang kalimat, gnakan kalimat sederhana yang efektif.
5.Ringkaslah kalimat menjadi frase, dan frase menjadi kata.
6.Bila terdapat rangkaian ide atau gagasan dari beberapa alinea, maka ambilah ide sentralnya saja atau pokok pikiran dan kalimat pokok/intinya.
7.Buanglah bebrapa alinea yang dapat diwakili dengan satu alinea saja, atau sebaliknya, dan pertahankan alinea yang memang harus dipertahankan.
8.Pertahankanlah kalimat yang tidak memungkinkan untuk disederhanakan, sehingga keaslian suara pengarang tetap dapat dipertahankan pula, yaitu kata kunci yang ada pada kalimat tersebut.
9.Buanglah seluruh kata tugas yang memungkinkan untuk dibuag, tetapi pertahankanlah susunan ide yang tersusun sesuai naskah aslinya.
Menyusun sinopsis sama dengan menyusun ringkasan karangan, menyusun ringkasan karangan ibarat memangakas sebuah pohon besar menjadi pohon kecil yang padat dan berisi. Maka hasil sinopsis adalah sebuah karangan pendek sesuai dengan karangan aslinya. Sebagai pedoman sederhana saja, sinopsis adalah sebuah karangan utuh diringkas menjadi sepertiganya atau seperempatnya saja cukuplah baik apabila suara tetap dapat dipertahankan keaslinya.

DESKRIPSI PENILAIAN SINOPSIS
1.Buatlah sinopsis dari buku bacaan yang disediakan oleh guru (fiksi atau nonfiksi) (Sinopsis adalah ringkasan cerita atau karangan dari sebuah buku).
2.Bacalah buku bacaan yang disediakan oleh guru, selama kurang lebih 2 jam atau paling tidak diulang membaca samapai 3 kali.
3.Buatlah ringkasan bacaan tersebut dengan cara tertulis selama 45 menit, baik itu pada waktu latihan maupun penilaian atau mengikuti lomba.
4.Penilaian
a. Aspek yang dinilai:
Kesesuaian sinopsis dengan isi buku,
Penggunaan bahasa Indonesia, dan
Penyajian alur cerita atau sistematika penulisan cerita.
b. Rentang nilai
No Aspek Penilaian Nilai
1 Kesesuaian sinopsis dengan isi cerita dalam buku 30 – 50
2 Penggunaan bahasa Indonesia dengan EYD baik dan benar 15 – 25
3 Penyajian alur cerita/sistematika penulisan cerita 15 – 25
Jumlah 60 – 100
5.Ceritakan kembali bacaaan tersebut ( hasil sinopsis yang telah dibuat oleh anak), dengan teknik pidato selama 10 menit pada waktu penilaian/mengikuti lomba, tetapi saat berlatih diusahakan kurang dari 10 menit.
6. Penilaian
a. Aspek yang dinilai
teknik bercerita dan kesesuaian dengan isi cerita dalam buku.
penggunaan bahasa Indonesia yang santun.
Penghayatan terhadap isi cerita.
Penampilan (percaya diri)
b. Rentang nilai
No Aspek Penilaian Nilai
1 Teknik bercerita dan kesesuaian dengan isi cerita dalam buku 15 – 25
2 Penggunaan bahas Indonesia yang santun 15 – 25
3 Penghayatan terhadap isi cerita 20 – 30
4 Penampilan (percaya diri) 10 – 20
Jumlah 60 – 100
7. Nilai akhir adalah nilai rata-rata dari jumlah nilai tertulis dan nilai bercerita atau sendiri-sendiri (tertulis sendiri dan bercerita sendiri).
8. Lembar penilaian membuat sinopsis tertulis dan bercerita, dapat digabungkan dengan format sebagai berikut.
LEMBAR PENILAIAN
Membuat Sinopsis Tertulis dan Bercerita
Nama Siswa Aspek Penilaian Jumlah Nilai Rata2 Nilai
1 2 3 4 5 6 7


Keterangan
1). Tertulis.
1.Kesesuaian synopsis dengan isi certa dalam buku.
2.Penggunaan bahasa Indonesia dengan EYD baik dan benar.
3.Penyajian alur cerita/sistematika cerita
2). Bercerita
4. Teknik bercerita dan kesesuaian dengan isi cerita dalam buku
5.. Penggunaan bahsa Indonesia yang santun.
6. Penghayatan terhadap isi cerita.
7. Penampilan (percaya diri)
oleh: Falidan Ahmad

Selasa, 03 Agustus 2010

ASET YANG SELALU DIANGGAP SEBAGAI KESET.......................

JLAMPRANG, 03 AGUSTUS 2010
RENUNGAN BAGI KITA.................
Jika kita melihat piala yang terpampang di lemari kaca.........
sejenak kita bangga pada pencapaian yang telah diterima........
tapi sadarkah kita?????? sebagian besar piala yang terpampang itu ternyata dihasilkan oleh siswa dari bangku deret paling belakang.....siswa yang pemahaman dan kemampuan akademik sering lamban dari standar rata- rata.....siswa yang hanya asyik bersiul sembari memukul meja....
siswa yang sering kita anggap pengganggu ketenangan suasana belajar karena lebih tertarik bermain bola dan meributkan cabang olahraga daripada berhitung rumus matematika......
bahkan banyak juga piala yang mengharumkan nama sekolah ternyata disumbangkan oleh siswa yang tidak naik kelas...atau sering kita beri label siswa sisa perang vietanam
sadarkah bahwa sebenarnya siswa yang berprestasi dalam bidang olahraga sering kita biarkan terlantar...hanya diukur dari kemampuan daya serap materi pelajaran saja....
sudah selayaknya siswa dari deret paling belakang yang berpotensi menyumbang medali kita inventarisir sebagai ASET........bukan lagi dipandang sebagai KESET.....
hanya renungan kecil..........bercermin dari piala dibalik lemari kaca.....
JLAMPRANG, 16 Juli 2010
selamat datang tahun ajaran 2010/ 2011..................
sambut tahun ajaran baru seraya berdo'a...........
semoga tahun inilebih baik dari tahun yang lalu......prestasi bukan segalanya, tapi mari mencoba berorientasi pada optimalisasi proses...karena sejatinya...proses yang baik akan menciptakan kualitas hasil yang lebih baik.........mari bersama benahi pendidikan di negeri tercinta....dimulai dari sendiri...keluarga...sekolah dan lingkungan sekitar.....maju terus pendidikan Indonesia..............

Kamis, 06 Mei 2010

PERUBAHAN ITU.......... MEMBUAHKAN PRESTASI.........

JLAMPRANG, 2 Mei 2010
Sadarkah kita bahwa sebenarnya siswa bukanlah sekedar "botol kosong"
Sadarkah kita, ternyata guru lebih hebat dari sekedar menjadi "dongkrak motivator"
Fakta SDSN Jlamprang di POPDASENI 2010 Kecamatan Bawang Kabupaten batang :
1) Juara I OLIMPIADE SAINS SD/ MI
2) Juara I Seni Lukis SD/ MI
3) Juara I Siswa Berprestasi Putri SD/ MI
4) Juara I Seni Tari Putra SD/ MI
5) Juara I Cipta Lagu SD/ MI
6) Juara II LCC tingkat SD/ MI
7) Juara II Kreatifitas Karya Seni Lukis SD/ MI
8) Juara II Sinopsis dan Karangan Ilmiah SD/ MI
9) Juara III Siswa Berprestasi Putra SD/ MI
10) Juara III Cipta Puisi SD/ MI
Apa yang telah kami lakukan?? ternyata hanya dimulai dari perubahan sederhana.....
Semua siswa memiliki potensi diri, maka sudah sepatutnya guru berperan sebagai fasilitator dalam pengembangan potensi. Ironis ketika siswa memiliki potensi tapi harus layu sebelum berkembang, maka sejatinya guru sejati harus mampu menemukannya. persiapan matang saja belumlah cukup untuk menjadi juara, namun satu kata kunci yang mampu membantu mewujudkannya adalah membentuk mental juara pada diri siswa....
VINI...VIDI..... VICI.......saya datang...saya lihat...saya menang......
waktu yang singkat bukan alasan tepat untuk menjadi kendala dalam mempersiapkan diri menjadi juara, alhamdulillah kami mampu memanfaatkan dengan optimal......
Terima kasih atas kepercayaan dan peran serta masyarakat Jlamprang...terima kasih atas dedikasi guru...terima kasih kepada siswa- siswa pahlawan sekolah tercinta....
Dengan semangat kebersamaan, semoga SDSN Jlamprang mampu mempertahankan...bahkan meningkatkan prestasi pada tahun yang akan datang.....Amien....
Sebuah Prestasi kecil untuk bangsa yang besar...Satu kado besar dari satu sekolah kecil untuk mengenang jasa pahlawan Pendidikan Indonesia.....
mungkin karna Pepatah yang mengatakan "tiada kata terlambat dalam belajar" Indonesia sekarang terlambat jauh....tidak ada waktu terlambat menjadikan generasi penerus bangsa selalu bersantai dalam belajar ....yang seharusnya adalah..."kita sudah terlambat....maka belajarlah...!!!!!" Indonesia...belajarlah......
pesan untuk 2 MEI 2010....

Kepala Sekolah
Rintisan SDSN Jlamprang



EDI SUSANTO, S.Pd

Rabu, 17 Februari 2010

Jlamprang, 17 Februari 2010
Senin, 14 Februari 2010 adalah launching hari perdana bel otomatis SDSN Jlamprang.
Berawal dari Penerapan motto "DISIPLIN" warga sekolah yang telah menjadi jargon motivator, kehadiran bel sekolah memungkinkan segenap warga sekolah untuk senantiasa belajar mengoptimalkan waktu dengan penanaman kesadaran secara keberlangsungan dalam suasana edukatif. Formulasi desain format waktu saat masuk sekolah, istirahat maupun jam pelajaran usai, persiapan memulai jam pelajaran berikutnya, mengisi saat istirahat dengan lagu- lagu Perjuangan, memungkinkan SDSN Jlamprang menggagas paradigma baru " Maju dalam keseragaman,Seragam dalam kemajuan "
Dengan nada suara maupun nada himbauan kepada warga sekolah yang didesain menarik, tentunya akan menciptakan susana SDSN Jlamprang lebih berbeda dan berciri khas dibanding dengan SD lainnya. Filisof kami........Ketika peraturan dijalankan tanpa keterpaksaan .......dan perubahan terwujud karena berwal dari kebiasaan, maka disitulah hakekat makna kedisiplinan yang sesungguhnya.....hal itu hanya akan terwujud apabila dalam penerapan kedisiplinan sejak dini dilakukan dengan suasana sekolah yang menyenangkan......dan solusi kami.....BEL SEKOLAH OTOMATIS ADALAH JAWABANNYA.....
Ucapan terima kasih diucapkan kepada Bapak Wakhyudin atas keberhasilan dalam desain dan penerapan bel sekolah SDSN Jlamprang 2010.


Kepala Sekolah
Rintisan SDSN Jlamprang


EDI SUSANTO, S.Pd

Rabu, 10 Februari 2010

MENUJU SEKOLAH SEHAT 2012

Jlamprang, 3 Februari 2010
Program PAMSIMAS TERPADU 2009/ 2010 desa Jlamprang kecamatan Bawang Kabupaten batang, membawa angin segar dalam upaya persiapan SD N JLAMPRANG sebagai rintisan sekolah sehat 2010. Jalinan koordinasi yang baik antar stakeholders civitas akademika "JLAMPRANG TERPADU" ( UPD Disdikpora, PUSKESMAS, TIM Pamsimas Terpadu Kabupaten Batang, Kepala Desa, Komite Sekolah dan warga Sekolah)telah membuahkan hasil yang sangat membanggakan bagi kita semua. Barometer Keberhasilan "Jaringan Jlamprang Terpadu" adalah dengan suksesnya program pamsimas terpadu. Indikasi Keberhasilan tersebut dapat dikategorikan melalui wujud pembangunan Fisik dan pembangunan non fisik yang diharapkan menjadi katalisator dan acuan bagi inovasi program peningkatan pembangunan pada sekolah- sekolah di Kecamatan Bawang.
keberhasilan dalam bentuk fisik diantaranya telah berdiri :
1) 2 buah lokal WC siswa
2) 3 wastafel sebagai sarana kebersihan diri siswa
3) Saluran Sanitasi sekolah yang bersih
4) Saluran air dan instalasi yang bersih dan tertata rapi.
sedangkan kesuksesan pembangunan non fisik adalah :
1) Pendidikan kesehatan SDM sejak dini yang meliputi pola hidup sehat yang bekerjasama dengan dinas Kesehatan Bawang dan Pusat Laboratorium kesehatan masyarakat Jawa Tengah (kelas 1,2 dan3).
2) Pengenalan sanitasiland (kelas 4)
3) Pemanfaatan tinja siswa menjadi biofuel (kelas 5)
4) Penanganan penyakit berbasis individual/ Paramedis dini (kelas 6)
jika anda tertarik dengan keberhasilan program pamsimas terpadu di SDSN JLAMPRANG.....dan ingin melihat secara dekat.......sempatkanlah untuk silaturrahmi di SD kami.....mari bersama- sama kita bangun generasi penerus bangsa menjadi bangsa yang sehat jasmani dan rohani yang mampu bersaing di era globalisasi.....

Senin, 16 November 2009

SURAT KABAR SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN DALAM UPAYA PENINGKATAN PEMAHAMAN MENANGGAPI PERISTIWA

I. PENDAHULUAN
Salah satu tema dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar yang diharapkan menciptakan produk belajar berfikir kritis dan bersikap santun adalah pembelajaran pada tema peristiwa di kelas V semester II. Dalam tujuan dan indikasi pembelajarannya, siswa dituntut untuk memahami berbagai peristiwa yang diinformasikan, kemudian diharapkan mampu memberikan tanggapan atas peristiwa tersebut dalam bentuk lisan maupun tulisan dengan menggunakan bahasa penyampaian yang santun. Sering berlatih memahami dan menanggapi suatu peristiwa sederhana sejak dini, akan berguna bagi siswa sebagai bekal pemikiran dalam menanggapi peristiwa- peristiwa yang terjadi dalam kehidupan.
Meskipun tujuan pembelajaran dalam menanggapi peristiwa di Sekolah Dasar dirasa sebagai hal urgen yang tidak dapat dikesampingkan lagi, dalam aplikasi proses pembelajaran selama ini, ternyata masih jauh dari harapan, karena dalam pelaksanaan pembelajarannya, hanya didukung oleh media pembelajaran kadaluwarsa. Hal ini dapat terlihat nyata dari proses pembelajaran yang masih berlangsung konvensional dan klasikal. Konvensional karena dalam proses pembelajaran hanya terdapat satu- satunya media dan sumber belajar siswa, yaitu buku paket mata pelajaran Bahasa Indonesia dan belum terdapat multimedia yang dapat mengaktifkan siswa dalam menaggapi peristiwa secara kritis. Adapun masih bersifat klasikal karena peristiwa yang dikupas dalam proses pembelajaran adalah peristiwa yang telah usang saat buku paket tersebut diterbitkan dan belum adanya media pembelajaran yang dapat memberikan pemahaman berfikir secara nyata tentang apa saja peristiwa yang tengah terjadi., sebaliknya, siswa dipaksakan untuk menanggapi peristiwa usang yang telah terjadi pada saat buku paket mata pelajaran tersebut diterbitkan
Solusi dari permasalahan tersebut tentunya dengan memperbaharui media dan sumber belajar yang dapat menginventarisir perbendaharaan peristiwa yang tengah terjadi (up to date) dengan format kemasan bentuk bahasa penyampaian yang baik dan komunikatif (bukan kutipan peristiwa usang yang terdapat pada buku paket mata pelajaran,), sehingga siswa dapat belajar menanggapi peristiwa terkini di masyarakat Alternative media pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman dalam menanggapi peristiwa hangat yang tengah terjadi di masyatakat dengan bentuk maupun format bahasa penyampaian yang baik adalah media surat kabar.
II. SURAT KABAR SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN

SURAT KABAR SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN
Surat kabar adalah salah satu alat informasi dan komunikasi yang berisi pemberitaan dari kejadian, peristiwa, ide pemikiran/ gagasan dari permasalahan dan pengetahuan yang tengah terjadi dalam masyarakat (up to date) dengan bahasa penyampaian yang jelas dan terbuka. Dalam penyampaian informasi, surat kabar biasanya menyertakan penekanan dan penjelasan dengan menambahkan gambar atau cuplikan foto peristiwa yang terjadi sebagai daya tekan dan juga berfungsi sebagai daya tarik bagi pembaca. Disebut surat kabar karena isi dan format tulisan pada lembaran tersebut seperti halnya sebuah surat yang memberikan informasi peristiwa dan pengetahuan, akan tetapi informasi yang tertulis disebarkan kepada masysrakat umum sebagai sebuah pemberitaan /pengabaran. Karena bentuk dan proses pembuatannya secara berulang-ulang dalam jumlah yang besar (coppy) yang dilakukan oleh mesin pencetak, maka surat kabar dapat juga disebut sebagai alat informasi dan komunikasi cetak. Adapun fungsi dari surat kabar sebagai alat yang dapat memberikan informasi dan juga sebagai akses penghubung masyatrakat, pada akhirnya surat kabat juga dapat disebut sebagai sebuah media.
Sering ditemukan kerancuan dan kesalahan dalam pengertian dan pendiskripsian antara media dan media pembelajaran. Media adalah wadah dan wahana dari pesan/ informasi oleh sumbernya akan diteruskan kepada sasaran pesan tersebut ( Suparman 1995:177). Sedangkan media pembelajaran adalah Alat/ seperangkat alat yang dapat digunakan sebagai perantara komunikasi dengan tujuan untuk meningkatkan interaksi proses dan hasil pembelajaran (Association for Education and Communication Technology/ AECT, dikutip Utomo 1995:12). Dari pengertian tersebut, ternyata selain sebagai sebuah media secara umum, surat kabar juga dapat berfungsi sebagai media pembelajaran karena definisi dari media pembelajaran telah terdapat didalamnya, hanya dengan menghadirkan surat kabar dalam proses belajar mengajar, akan memberikan pergeseran makna yang lebih bermakna pada surat kabar, yaitu dari sekedar media menjadi media pembelajaran.

PEMILIHAN SURAT KABAR SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN
Surat kabar sebagai media pembelajaran berbasis cetakan telah mewakili kriteria penetapan sesuatu benda sebagai media pembelajaran (Nana Sudjana dan Ahmad Riva’i, 1991) antara lain:
1) Azaz Tujuan
Benda dapat dikatakan sebagai media pembelajaran apabila menunjang tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Dalam pembelajaran memahami peristiwa, surat kabar dapat menunjang tujuan dalam meningkatkan pemahaman menanggapi peristiwa, sehingga dapat dikatakan sebagai media pembelajaran.
2) Azaz Keterpaduan
Surat kabar juga dapat digunakan sebagai media pembelajaran karena secara tepat dan terpadu dapat meningkatkan pemahaman dan tujuan pembelajaran dalam menanggapi peristiwa.
3) Keadaan peserta didik
Surat kabar tentunya dapat difahami oleh siswa yang telah dibekali kemampuan membaca dan kemampuan memahiami bacaan, sehingga sesuai dengan keadaan siswa
4) Ketersediaan bahan dan waktu dalam penggunaan
Surat kabar dapat dijumpai hampir di perkotaan maupun pedesaan karena distribusinya dilakukan secara luas, sehingga tidak terdapat kesulitan dalam pengadaannya. Sedangkan dalam penggunaan sebagai media pembelajaran, surat kabar tidak akan menyita waktu yang lama (tercukupi).
5) Mutu dan Teknis.
Surat kabar memiliki kejelasan pemahaman dan kualitas produk isi maupun bahan yang baik sebagai sebuah media pembelajaran.
6) Biaya
Pengadaan surat kabat sebagai media pembelajaran tidak memerlukan biaya yang terlalu tinggi karena setiap lapisan masayarakat hampir dapat menjangkaunya.

Adapun nilai dan manfaat media surat kabar dalam upaya peningkatan pemahaman dalam menanggapi peristiwa saat proses pembelajaran adalah :
a) Meletakkan dasar kongkret dalam berfikir.
b) Mengurangi verbalisme.
c) Memperbesar perhatian siswa.
d) Membuat proses pembelajaran lebih bermakna.
e) Memberikan pengalaman belajara yang nyata.

APLIKASI SURAT KABAR SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN
Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia tema peristiwa kelas V semester II, siswa terlebih dahulu harus memahami peristiwa yang diinformasikan, kemudian dari pemahaman tersebut akan dikembangkan menjadi sebuah tanggapan sebagai respon dan hasil belajar, baik secara lisan maupun tulisan dengan bahasa penyampaian yang sopan. Dengan media surat kabar, tentunya akan dapat menunjang hasil belajar yang akan diperoleh siswa. Langkah pertama yang harus dilakukan guru adalah mendesain format perencanaan pembelajaran dengan mengoptimalkan media surat kabar dalam proses pembelajaran. Perencanan pembelajaran dengan mengoptiamlkan media surat kabar dalam upaya meningkatkan pemahaman siswa dalam menaggapi peristiwa perencanan pembelajaran sebagai berikut :
a) Kegiatan awal
 Guru bercerita tentang peristiwa yang dialami oleh anggota keluarga/ orang lain tentang kecelakaan kendaraan bermotor.
 Tanya jawab terhadap peristiwa yang diutarakan tersebut dengan menggunakan kalimat tanya apa, siapa, dimana, kapan, mengapa dan bagaimana peristiwa tersebut terjadi untuk memberikan konsep awal kepada siswa tentang menanggapi terhadap suatu peristiwa, jawaban siswa ditulis di papan tulis
 Pemberian kaitan antara konsep peristiwa yang telah dipahami siswa dengan materi pelajaran.
b) Kegiatan Inti
 Siswa diajak mengamati gambar- gambar peristiwa yang ditampilkan guru (peristiwa banjir, kebakaran hutan, kecelakaan lalu lintas dan kapal laut yang tenggelam) sebagai contoh peristiwa umum.
 Siswa diminta menyebutkan peristiwa apa saja yang ada pada gambar
 Tanya jawab tentang sebab- akibat terjadinya suatu peristiwa, dan memberikan pancingan bagaimana antisipasi agar peristiwa tidak terjadi lagi.
 Siswa diberi kesempatan untuk menaggapi peristiwa tersebut dengan bahasa masing- masing dengan maju di depan.
Guru memberiak evaluasi atas tanggapan siswa yang kurang benar dengan memberikan contoh kalimat tanggapan tentang peristiwa dengan bahasa yang santun yang telah ditulis pada bagan.
 Guru menampilkan berbagai kutipan peristiwa yang diambil dari harian Suara Merdeka dan lembar diskusi kelompok.
 Kelas dibagi menjadi 5 kelompok dengan memberikan penugasan untuk berdiskusi tentang peristiwa yang berbeda.
 Guru membimbing jalannya diskusi dengan memberikan bantuan apabila ada kelompok yang mengalami kesulitan.
 Perwakilan kelompok maju, secara berurutan untuk membacakan hasil diskusi.
 Setelah hasil diskusi dipresentasikan, guru dan siswa merangkum hasil diskusi sebagai catatan belajar siswa.
c) Kegiatan akhir
 Guru memberikan pertanyaan- pertanyaan pelacak kepada siswa untuk mengetahui pemahaman materi pembelajaran.
 Siswa menjawab soal latihan pada buku paket, secara individu.
 Hasil penugasan individu dikumpulkan, guru memberi penguatan
III. PENUTUP

A. KESIMPULAN
Pada proses pembelajaran, media adalah komponen yang sangat berperan penting dalam pemahaman konsep dan peningkatan tujuan hasil belajar. Media yang akan dipilih hendaknya harus memenuhi kriteria dan azaz pemilihan media dalam pembelajaan. Setelah criteria tersebut terpenuhi, guru diharapkan menjadi fasilitator siswa dalam penggunaan media agar dapat mendukung dan menigkatkan makna dari proses pembelajaran dengan terlebih dahulu mendesai pembelajaran yang berorientasi pada siswa. hal ini tentunya juga berlaku pada pemilihan surat kabar sebagai media pembelajaran pada mata Pelajaran Bahasa Indonesia dengan tema peristiwa di kelas V semester II Sekolah Dasar. Optimalisasi penggunaan surat kabar sebagai media pembelajaran dalam langkah- langkah pembelajaran secara terorganisir dengan baik, diharapkan dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam memahami dan menaggapi peirstiwa yang sedang terjadi di masyarakat, sehingga sejalan dengan tujuan pembelajaran, diharapkan dapat menciptakan produk belajar yang mampu berfikr kritis dan bersikap sopan.

B. SARAN
Setelah mengetahui bahwa surat kabar juga dapat berfungsi sebagai media pembelajaran dalam upaya meningkatkan pemahaman siswa tentang memahami dan menaggapi peristiwa pada pembelajaran Bahasa Indonesia kelas V semester II di Sekolah Dasar, diharapkan guru dapat menghadirkan serta mengoptimalkan siswa dalam penggunaannya dalam proses pembelajaran.

PEMBAHARUAN PARADIGMA PEMBELAJARAN

PEMBAHARUAN PARADIGMA PEMBELAJARAN
Oleh : Falidan Ahmad
Guru Kelas III SDSN JLAMPRANG

Sebuah kisah, yang berawal dari aksi seorang penyanyi musik melayu begitu atraktif di atas panggung berukuran mini mampu membius penonton yang memadati halaman rumah pak Wahyu yang kala itu tengah menggelar pesta pernikahan putri semata wayangnya. Penonton begitu terpana menyaksikan semangat membara, raut muka yang tiada tersirat rasa lelah meskipun telah mulai bernyanyi sejak dua jam yang lalu, dipadu dengan gerakan tubuh yang masih terjaga dengan baik, menggambarkan besarnya energi dan baiknya stamina sang penyanyi. Setelah pementasan berakhir, seorang penonton yang masih diselimuti penasaran dan rasa ingin tahu, memberanikan diri bertanya kepada penyanyi: “Maaf Mbak, penampilan anda begitu aktraktif, energik dan bersemangat meskipun tiga jam tiada henti menghibur penonton, jika dilihat dari luwesnya gerakan tubuh, sepertinya anda sudah lama menjadi penyanyi. Kalau saya boleh tahu, sejak kapan anda mulai bernyanyi? Adakah kiat- kiat khusus untuk menjaga stamina tubuh anda?”. Dengan senyum manis penyanyi tersebut menjawab: “Terima kasih atas sanjungan bapak, sudah satu tahun ini saya menjadi penyanyi. Sebelumnya saya menjadi guru SD selama 2 bulan di desa, tapi karena kebutuhan hidup, saya memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan tersebut. Kalau suara saya terdengar lantang dan energik, itu karena saya sudah terbiasa sejak menjadi guru, tapi saya masih kalah energik apabila dibandingkan dengan guru SD yang setiap hari harus mengajar dengan suara lantang di depan kelas…..” Jawaban sederhana yang begitu mengejutkan si penanya, yang ternyata juga berprofesi sebagai seorang guru SD. Kemudian penonton itu berkata: “Anda tidak salah, guru memang memiliki stamina yang tinggi, tapi saya tidak setuju atas pernyataan anda bahwa guru sama seperti penyanyi, itu pemikiran yang terlalu sempit. Maaf, saya lebih tahu karena saya juga seorang guru SD “. Dengan senyum kecil, guru SD pun melangkah pergi sembari merenungkan jawaban sederhana penyanyi itu.

Guru bukanlah penyanyi
Maaf, kisah ini bukan bermaksud menganalogikan guru dengan penyanyi, tiada terlintas sedikitpun. Profesi guru begitu terhormat karena dedikasi dan pengabdian mencerdaskan generasi penerus bangsa dengan segenap kompetensi paedogagik, kepribadian, sosial dan profesionalisme, memang jauh lebih mulia apabila dibandingkan dengan pekerjaan yang hanya berorientasi pada nominal rupiah. Selain perbedaan mendasar dalam tujuan dan orientasinya, perbedaan secara signifikan juga dapat dikaji dari berbagai dimensi dan bermacam sudut pandang secara kompleksitas. Seorang penyanyi hanya melakukan “ aksi – reaksi “ sebagai pelaku tunggal dalam tindakan atas obyek, akan tetapi seorang guru dapat memodifikasi “ aksi- reaksi” menjadi sebuah “ interaksi ”antar subyek.
Akan tetapi, apabila ditelaah secara komperhensip lagi, terdapat benang merah antara guru dengan penyanyi, sudut yang terbentuk dari keduanya adalah stamina energik yang dipadu dengan penampilan atraktif. Dalam aksinya, seorang penyanyi harus didukung dengan stamina kuat dan penampilan atraktif, begitupula seorang guru harus memiliki stamina kuat dan penampilan atraktif di depan kelas dalam mentransfer ilmu pengetahuan kepada subyek didik. Adapun yang membedakan besarnya stamina diantara keduanya adalah durasi waktu dalam melakukan tindakan. Subyek pertama hanya melakukan tindakan selama 3 jam, sedangkan pada subyek kedua dua kali lebih lama/ 6 jam (guru SD mengajar dari pukul 07.00-13.00).
Secara garis besar, dapat disimpulkan bahwa seorang guru memang jauh lebih energik bila dibandingkan dengan seorang penyanyi. Luar biasa!!! Dengan beban dan tugas yang begitu besar, seorang guru masih memerlukan energi yang begitu besar pula.

Pembaharuan paradigma dan rintangan
Maksud dari telaah kisah diatas bukan hanya sekedar memberikan apresiasi atas dedikasi pahlawan tanpa tanda jasa dalam mengeksplisit dan mengimplisitkan nilai – nilai hidup kepada generasi bangsa, tapi lebih dari itu, makna qauniyah dari kisah tersebut hendaknya memberikan inspirasi bagi kita, bahwa tugas dan tanggung jawab besar, tidak harus memerlukan energi yang besar. Lantas timbul pertanyaan, bagaimana mungkin tugas besar bisa dilalukan dengan energi yang relatif lebih kecil?. Sebenarnya kita pun telah mempunyai jawaban atas pertanyaan tersebut, jawabnya adalah “pembaharuan paradigma”.
Memang, untuk memperbaharui paradigma, tidaklah semudah membalik telapak tangan. Kompleksnya tantangan (bukan dipandang sebagai permasalahan) dalam dunia pendidikan, mulai dari minimnya sarana dan prasarana, kesejahteraan pendidik dan masih banyak lagi rintangan yang ada merupakan ganjalan besar dalam peningkatan mutu pendidikan. Bagaimana guru harus memperbaharui paradigma jika sarana dan prasarana tidak memadai? Bagaimana mungkin pembelajaran berbasis teknologi akan terwujud apabila tidak ada media teknologi (komputer) dalam proses belajar mengajar? Kalaupun sudah ada, apakah guru sudah bisa mengoperasikannya? logika yang bisa diterima karena terbentuk dari sebuah realita.
Benang kusutpun harus diurai, solusi harus dicari. Membahas dan berdebat dengan perbedaan argumen dalam mencari “kotak hitam” permasalahan pendidikan, hanya akan menciptakan polemik yang berkepanjangan, dan guru tidak akan bisa memperbaharui paradigmanya apabila hanya terjebak dalam polemik masalah pendidikan. Telalu lama terlarut, kadang kita sendiri lupa, bahwa kreativitas lahir dari keterbatasan.
Taruhlah, semua sekolahan memiliki sarana dan prasarana yang yang memadai. Dengan anggaran pendidikan yang berangsur- angsur meningkat, memungkinkan kebutuhan akan media teknologi (komputer dan internet) di setiap sekolah terpenuhi, program pemerintah dalam peningkatan mutu pendidik dapat tercapai, dengan indikasi bahwa guru akan menguasai/ dapat menggunakan media teknologi. Akan tetapi, setelah semuanya terealisasi apakah dapat menjamin terciptanya pembelajaran berbasis teknologi?. Tentunya tidak, siapa yang akan menjamin?
Terlepas dari benar atau tidaknya telaah diatas memang harus dibuktikan secara empiris, tetapi secara sederhana kesimpulan yang bisa diambil sebagai titik temu sekaligus titik tumpu fundamental dalam pembaharuan paradigma pembelajaran adalah berpulang pada kesadaran guru dalam pembaharuan paradigma. Sebuah pembaharuan paradigma dalam pembelajaran yang lebih inovatif dalam akselerasi dunia pendidikan yang selalu dinamis.

Paradigma pembelajaran berbasis teknologi
Teknologi Informasi dan komunikasi telah menggema dalam sendi- sendi peradaban manusia, terlebih lagi, “virus teknologi” telah menjalar pada sendi peradaban yang sangat urgen, yaitu sendi pendidikan. Komputerisasi dalam pembelajaran, mau tidak mau menuntut stakeholders pendidikan ( terutama guru) untuk merubah paradigma dari pembelajaran konvensional menuju pembelajaran berbasis teknologi.
Aplikasi teknologi dalam pembelajaran yang didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai, pada akhirnya mengimplikasikan peningkatan proses, produk dan hasil pembelajaran berbasis teknologi pula. Secara sederhana, reorientasi proses pembelajaran dapat diimplementasikan melalui media komputer. Sebagai contoh, materi pelajaran dapat disajikan melalui bentuk aplikasi program Microsoft power point, audio visual dengan media CD/ VCD, video/ tape recorde, OHP dsb(media berbasis teknologi lain) sehingga dapat merangsang dan mendorong semangat, minat dan motivasi subyek didik dalam proses belajar mengajar, sekaligus menghemat energi guru dalam menyampaikan materi (mengurangi metode ceramah), yang pada akhirnya akan bermuara pada proses Pembelajaran Aktif, Kreatif dan Menyenangkan.
Tatkala pembelajaran dipandang sebagai produk/ hasil, pembelajaran berbasis teknologi dapat menghasilkan produk belajar yang tidak lagi gagap teknologi, akan tetapi dapat tercipta generasi penerus bangsa yang melek teknologi sejak dini, sehingga dalam rantai makanan globalisasi, bangsa ini bukan hanya dipandang sebagai bangsa tingkat konsumen, melainkan sebuah bangsa dengan label “produsen teknologi“.
Sebagai langah awal dalam pembaharuan paradigma pembelajaran, marilah kita bertanya pada diri sendiri, sudahkah kita sebagai pendidik merubah diri dari sekedar beraksi menjadi berinteraksi? Sudahkah kita merubah pandangan terhadap dunia bahwa jaman telah berubah dan terus selalu berubah/ berkembang? Siapkah kita dalam menyongsong dan menghadapi perubahan? Sebuah refleksi dari kisah sederhana untuk sebuah bangsa yang besar “guru bukan penyanyi, guru tidak sama seperti penyanyi, guru lebih hebat dari penyanyi karena guru mampu menciptakan ribuan penyanyi”.
ARTIKEL TELAH DIMUAT DI MAJALAH JURNAL PENDIDIKAN BATANG BERKEMBANG EDISI KE-3 TAHUN 2008

Minggu, 15 November 2009

PERIHAL CPNS 2009

Kami segenap civitas akademika SDSN Jlamprang senantiasa memberikan bantuan moril dan semangat serta mendoakan semoga saudara kita Wiyata Bhakti di Kecamatan Bawang diberi kemudahan dalam pendaftaran, pengadaan persyaratan, pelaksanaan tes dan harapan kita semua untuk lolos tes seleksi CPNS 2009 dapat terwujud,amieen....
bagi para peserta tes seleksi CPNS 2009, segenap warga SDSN Jlamprang hanya dapat berpesan : " manfatkan waktu yang singkat ini dengan persiapan maksimal, karena sejatinya tugas kita adalah mencoba (dengan perencanaan dan persiapan),untuk hasil akhir hanya Tuhan YME yang mampu mewujudkannya......tetap semangat !!!!semoga kita senantiasa diberi kemudahan dalam mencapai cita- cita."
apabila saudara menemukan kesulitan dalam mencari pelatihan dan prediksi soal- soal tes CPNS, kami memiliki dokumen pelatihan soal- soal tes CPNS tahu- tahun yang lalu dalam bentuk s0ftware PDF,atau saudara bisa datang langsung di SDSN Jlamprang, atau kirim e- mail ke:
www.sdsnjlamprang@gmail.com
www.wahyugandhunlk@gmail.com
www.falidanahmad@gmail.com
akhirnya, kami hanya bisa membantu doa semoga sukses dalam meraih cita- cita.

kepala Sekolah
SDN JLAMPRANG


EDI SUSANTO,S.Pd

Sabtu, 14 November 2009

EVALUASI KTSP 2009

Sabtu, 14 Nopember 2009 SDSN Jlamprang telah mengikuti evaluasi KTSP 2009 di aula DISDIKPORA kabupaten Batang. KTSP sebagai sarat mutlak dasar instrumen dan orientasi tujuan pembelajaran yang meliputi silabus, RPP, promes dan prota semua mata pelajaran yang telah disusun oleh masing masing guru kelas dan guru mapel. bahan pembuatan KTSP SDSN Jlamprang 2009/ 2010 mengacu pada BSNP serta rambu- rambu dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Batang.

KKG BERMUTU GUGUS KRESNA 2009

SDSN Jlamprang sebagai sd inti gugus kresna menjadi tuan rumah pelaksanaan KKG Bermutu tahun 2009/ 2010 tang telah dimulai pada tanggal 27 Oktober 2009. peserta KKG Bermutu gugus kresna adalah seluruh guru di sd inti dan sd imbas ( sd jlamprang, wonosari 01, wonosari 03, sangubanyu 01, sangubanyu 02, sangubanyu 03, kalirejo 01, kalirejo 02 dan kalirejo 03)